Minggu, 15 Desember 2013

Workshop tatalaksana asma terkontrol


Di penghujung tahun 2013 telah berlangsung Workshop TATALAKSANA ASMA TERKONTROL pada tanggal 14 Desember 2013 di Pasific hotel Balikpapan. Acara ini dihadiri 38 dokter umum di Balikpapan dan sekitarnya, merupakan kerjasama PDPI cabang Kalimantan Timur dengan IDI cabang Balikpapan dan didukung oleh PT Glaxo Wellcome Indonesia.

Senin, 09 Desember 2013

WORKSHOP Tatalaksana asma terkontrol

Kita sering serius saat menghadapi asma eksaserbasi dan berusaha agar keluhan pasien bisa segera hilang. Setelah keluhan menghilang pasien sering berkesimpulan sudah sembuh, padahal kemungkinan besar asmanya belum terkontrol dengan sempurna. Apabila kita tidak melakukan sesuatu pasca eksaserbasi atau pada periode interval eksaserbasi, maka kemungkinan besar akan terjadi eksaserbasi lagi dengan derajad yang lebih berat dan/atau interval yang lebih pendek.

Kamis, 28 November 2013

EMBOLI PARU, gejala

Pulmonary embolism
Emboli paru (pulmonary embolism/ PE) adalah penyumbatan arteri utama atau salah satu cabang arteri paru oleh substansi yang berasal dari luar paru melalui aliran darah. Emboli paru paling sering berasal dari trombosis vena dalam (deep vein thrombosis/DVT), yaitu bekuan darah pada vena dalam kaki atau pelvis yang lepas dan berpindah menuju ke paru. Sebagian kecil lainnya merupakan embolisasi udara, lemak, talk (dalam obat yang digunakan oleh para pecandu obat intravena) dan cairan amnion.

Kamis, 07 November 2013

Etika dalam kedokteran respirasi (bagian 1)

Andaikata semua dokter akan berlaku dan bertindak benar dalam melaksanakan praktek kedokteran sesuai dengan kata hatinya atau sesuai dengan sumpah atas dasar keyakinan atau agamanya, maka keberadaan etik atau hukum tidak perlu. Dalam konsep Islam, jujur pada diri sendiri digambarkan bagaikan menggenggam bara api, sehingga penerapannya sangat berat kecuali bagi mereka yang beriman. 

Kamis, 19 September 2013

NILAI FUNGSI PARU INDONESIA

Kesimpulan pemeriksaann faal paru yang dihasilkan oleh mesin spirometri sering didapatkan mild restrintion atau mild obstruction, padahal penampilan pasien tampak normal dan maneuver spirometri telah dilakukan sesuai prosedur. Secara umum, penyebab kesalahan hasil spirometri dibagi menjadi 3 faktor yaitu operator, pasien dan mesin spirometri.